Manajemen Konflik
cara suku purba menyelesaikan pertikaian tanpa sistem hukum formal
Bayangkan skenario ini. Kita sedang kesal setengah mati karena rekan kerja mencuri ide presentasi kita. Atau mungkin, tetangga sebelah menyetel musik dangdut dengan volume maksimal pada jam dua pagi. Hal pertama yang terlintas di kepala kita mungkin melapor ke HRD, melapor ke ketua RT, atau bahkan mengancam dengan somasi hukum. Hari ini, kita hidup dengan sistem hukum yang terstruktur. Tapi, pernahkah kita berpikir, bagaimana nenek moyang kita menyelesaikan masalah puluhan ribu tahun yang lalu? Di masa itu tidak ada polisi, tidak ada pengadilan, dan tidak ada penjara. Apakah ketika ada konflik, mereka langsung baku hantam menggunakan kapak batu?
Selama ini, budaya pop sering mencekoki kita dengan gambaran bahwa manusia purba itu barbar dan brutal. Kita cenderung membayangkan kelompok hunter-gatherer atau pemburu-pengumpul sebagai orang-orang beringas. Banyak dari kita percaya pada konsep Homo homini lupus, bahwa manusia pada dasarnya adalah serigala bagi manusia lainnya. Tapi, mari kita lihat fakta sainsnya bersama-sama. Temuan antropologi modern dan catatan evolusi justru menunjukkan hal yang berkebalikan. Komunitas manusia purba ternyata sangat menjunjung tinggi keharmonisan. Pertanyaannya, bagaimana sekelompok manusia yang hidup berdesakan di gua atau kemah yang sempit, bisa menahan diri untuk tidak saling bunuh saat porsi daging hasil buruan dibagi secara tidak rata? Jika bukan lewat hukum tertulis dan ancaman hukuman fisik, pasti ada sebuah mekanisme psikologis yang sangat jenius di balik layar.
Mari kita melakukan perjalanan waktu sejenak, atau setidaknya melihat kelompok masyarakat adat yang masih mempraktikkan gaya hidup kuno ini di era modern. Teman-teman mungkin akan tersenyum mendengarnya. Ketika ada dua anggota suku yang bertikai, mereka tidak menggelar sidang peradilan. Coba kita tengok Suku Inuit di wilayah es Arktik. Ketika ada pria yang berselisih karena urusan harta atau kecemburuan romantis, mereka tidak adu jotos. Mereka justru melakukan song duel atau duel menyanyi. Ya, mereka saling menyindir lewat lagu yang diciptakan mendadak di depan seluruh anggota suku yang tertawa menonton. Di belahan bumi lain, Suku Ju/'hoansi di Afrika bagian selatan punya tradisi unik. Kalau ada pemburu yang mulai sombong, bertingkah arogan, atau pelit, anggota suku lainnya akan beramai-ramai meledek dan me- roasting orang tersebut habis-habisan. Kenapa harus menyanyi? Kenapa harus me- roasting satu sama lain? Bukankah itu malah bikin sakit hati? Apa sebenarnya rahasia yang disembunyikan oleh otak prasejarah kita lewat ritual-ritual aneh ini?
Jawabannya terletak pada cara kerja evolusi dan psikologi sosial manusia. Di alam liar zaman es, bertahan hidup sendirian adalah sebuah kemustahilan. Diasingkan dari kelompok sama saja dengan hukuman mati. Otak kita berevolusi untuk menjadi sangat sensitif terhadap reputasi, rasa malu, dan penerimaan sosial. Ketika Suku Inuit berduel nyanyi atau Suku Ju/'hoansi saling ejek, mereka sebenarnya sedang mempraktikkan manajemen konflik berbasis komunitas. Tujuannya bukan untuk mencari siapa yang paling benar lalu memenjarakan yang salah. Tujuannya adalah katarsis, sebuah pelampiasan emosi yang terukur. Seluruh anggota suku menonton, tertawa bersama, dan pada akhirnya ketegangan itu menguap begitu saja. Tekanan sosial dan rasa malu menjadi "sistem hukum" yang paling efektif. Mereka sangat mengedepankan rekonsiliasi. Pelaku pelanggaran dibuat sadar akan kesalahannya lewat teguran kolektif, lalu dimaafkan, dan dirangkul kembali. Bagi mereka, keutuhan kelompok adalah segalanya. Hukum manusia purba tidak bekerja di atas prinsip balas dendam, melainkan di atas empati dan kebutuhan mutlak untuk tetap bersama.
Fakta sejarah ini rasanya menampar kita dengan lembut, bukan? Hari ini, kita dikelilingi oleh ribuan halaman aturan tertulis. Kita punya pengacara canggih dan departemen keamanan. Namun, ironisnya, kita justru semakin sering merasa terasing satu sama lain. Saat ada konflik, kita dengan mudah memilih block di media sosial, melakukan cancel culture, atau saling diam selama berbulan-bulan. Kita seolah lupa bahwa di dalam tengkorak kepala kita, masih bersemayam otak manusia purba yang sangat mendambakan koneksi dan penyelesaian yang hangat. Tentu, kita tidak perlu mulai berduel menyanyi di tengah kantor saat bertengkar dengan rekan kerja. Tapi, kita bisa meniru esensi luhur dari leluhur kita. Menurunkan ego kita. Berbicara secara terbuka. Menggunakan humor untuk mencairkan suasana. Dan mengingat bahwa di ujung hari, menjaga keutuhan hubungan seringkali jauh lebih penting daripada sekadar membuktikan diri siapa yang paling benar. Manusia purba berhasil melewati zaman es karena mereka memilih untuk saling memaafkan. Bukankah kita juga seharusnya bisa melakukan hal yang sama?